ASGHAR ALI ENGINEER
PENDAHULUAN
Pembahasan tentang agama akan terus mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan zaman dengan situasi dan kondisi yang berbeda. Pembahasan Islam yang dulunya hanya berkisar tentang doktrin semata kini semakin meluas hingga pengkajian asal usul Islam, metodologi Islam, serta pemikiran-pemikiran yang muncul dalam Islam.akhir-akhir ini muncul pemikiran bahwa harus ada metodologi dalam memahami dan memahamkan agama. Islam tidak hanya ajaran yang berkiblat pada aspek normative saja, sehingga esensi dari Islam harus direalisasikan sesuai khittah yang ada. Pada saat ini muncul pemikiran bahwa dalam memahami ajaran agama Islam harus menyeimbangkan sisi normativitas serta sisi historisitas agama supaya tidak terjadi missing link antara pemahaman tekstual dan kontekstual. Pembaharuan pemikiran ini muncul sebagai kegelisahan pemikir kontemporer yang melihat realitas keberagamaan umat Islam yang telama terkungkung dalam kejumudan, maka lontaran pemikiran di atas menjadi sebuah revolusi teologis menuju teologi teologi transformative untuk menjawab realitas masa kini. Pemikiran inilah yang menjadi sumber perhatian Ali Asghar Engineer, seorang pemikir dari India untuk membuat perubahan tentang cara pandang umat muslim terhadap Islam. Sebagai wujud kontekstualisasinya manusia dianjurkan untuk mengoptimalkan potensi akalnya melalui pendayagunaan akal lewat ijtihad.
Perbincangan tentang agama (religion) tidak akan pernah terputus, bahkan terus berkembang seiring dengan situasi dan kondisi manusia yang menjadikannya sebagai pedoman (way of life) dan bahan studi di berbagai kalangan. Perbincangan selama ini adalah cara pandang manusia terhadap agama itu sendiri dan mengamlkannya dalam kehidupan bermasyarakat. Wacana klasik sering menempatkan agama sebagai suatu yang absolute tentang kebenaran hidup dan kehidupan dan menempatkannya suatu yang sakral, untouchable dengan berbagai alasan, dan cara memahaminya secara doktriner, sehingga terkesan kaku tidak menciptakan ruang atas ranah kritis manusia.
Agama juga disikapi sebagai suatu yang given dan lebih menonjolkan sisi hubungan manusia dengan Tuhan (worship), dari pada ranah sosial. Kehadiran pemikir kontemporer, seperti Hasan Hanafi, Fazlul Rahman, Muh. Arqun, dan Asghar Ali Engineer yang akan dibahan pemikirannya dalam tulisan ini, melihat bahwa pendekatan kepada Agama pada masa klasik telah mengakibatkan kejumudan berfikir kaum muslim yang sudah jauh tertinggal dengan non muslim dalam ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
Pada saat ini muncul lontaran pemikiran bahwa diperlukan metodologi dalam memahami dan memahamkan agama, yaitu harus ada perimbangan terhadap sisi normativitas agama dengan tidak melupakan sisi historisitas agama. Cara pandang normativitas adalah pemahaman agama yang lebih berorietasi pada hubungan manusia dengan Tuhan dan terfokus pada kajian teks dengan tidak mengedepankan sisi rasionalitas. Sedangkan historisitas, adalah bagaimana memahami agama dan teks yang ada dengan melihat sisi-sisi historis yang melatarbelakanginya, atau gejala-gejala sosial kultural yang melingkupinya.
Pembaharuan pemikiran ini muncul sebagai kegelisahan pemikir kontemporer yang melihat realitas keberagamaan umat Islam yang telah lama terkungkung dalam kejumudan, maka lontaran pemikiran di atas menjadi sebuah revolusi teologis menuju teologi transformative untuk menjawab realitas kekinian. Pemikiran inilah yang menjadi concern Asghar Ali Engineer, seorang pemikir dari India untuk melakukan perubahan fenomenal dari carapandang dan sikap kaum muslim dalam beragama. Gerakan ini dimulai bukan saja dengan tulisan-tulisan tentang perlunya pembebasan teologi, tapi juga Asghar Ali lakukan dengan membentuk lembaga yang secara aktif mengkampanyekan perlunya perubahan pemikiran dikalangan muslim yang lebih adaptif dan transformatif.
Lontaran pemikiran Asghar Ali ini tidak serta merta muncul begitu saja, melainkan adanya pengamatan terhadap realitas yang terjadi, khususnya di India, Negara dimana ia tinggal, terdapat gejolak sosial yang luar biasa dimana agama-agama tersebar, dan secara teologis mengusung semangat ketuhanan, tetapi pada kenyataannya bertolak belakang dengan esensi kedamaian dan kesejahteraan umat manusia. Dia melihat begitu hebat pergesekan (konflik) kelompok masyarakat yang mengatasnamakan agama dan banyak menelan korban. Selain itu juga realitas adanya struktur sosial yang mengenal kelas di India sangat menghambat bagi hak-hak warga Negara untuk mendapatkan hidup yang layak. Sehingga menurut hemat penulis, lontaran gagasan tentang teologi pembebasan merupakan suatu yang fenomenal dan mendekontruksi pemikiran traditional-teologic dengan melakukan upaya aktif melalui berbagai gerakan-gerakan perspektif Teologi Pembebasan yang menuntut perubahan struktur sosial yang tidak adil dan menindas.
Agama juga disikapi sebagai suatu yang given dan lebih menonjolkan sisi hubungan manusia dengan Tuhan (worship), dari pada ranah sosial. Kehadiran pemikir kontemporer, seperti Hasan Hanafi, Fazlul Rahman, Muh. Arqun, dan Asghar Ali Engineer yang akan dibahan pemikirannya dalam tulisan ini, melihat bahwa pendekatan kepada Agama pada masa klasik telah mengakibatkan kejumudan berfikir kaum muslim yang sudah jauh tertinggal dengan non muslim dalam ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
Pada saat ini muncul lontaran pemikiran bahwa diperlukan metodologi dalam memahami dan memahamkan agama, yaitu harus ada perimbangan terhadap sisi normativitas agama dengan tidak melupakan sisi historisitas agama. Cara pandang normativitas adalah pemahaman agama yang lebih berorietasi pada hubungan manusia dengan Tuhan dan terfokus pada kajian teks dengan tidak mengedepankan sisi rasionalitas. Sedangkan historisitas, adalah bagaimana memahami agama dan teks yang ada dengan melihat sisi-sisi historis yang melatarbelakanginya, atau gejala-gejala sosial kultural yang melingkupinya.
Pembaharuan pemikiran ini muncul sebagai kegelisahan pemikir kontemporer yang melihat realitas keberagamaan umat Islam yang telah lama terkungkung dalam kejumudan, maka lontaran pemikiran di atas menjadi sebuah revolusi teologis menuju teologi transformative untuk menjawab realitas kekinian. Pemikiran inilah yang menjadi concern Asghar Ali Engineer, seorang pemikir dari India untuk melakukan perubahan fenomenal dari carapandang dan sikap kaum muslim dalam beragama. Gerakan ini dimulai bukan saja dengan tulisan-tulisan tentang perlunya pembebasan teologi, tapi juga Asghar Ali lakukan dengan membentuk lembaga yang secara aktif mengkampanyekan perlunya perubahan pemikiran dikalangan muslim yang lebih adaptif dan transformatif.
Lontaran pemikiran Asghar Ali ini tidak serta merta muncul begitu saja, melainkan adanya pengamatan terhadap realitas yang terjadi, khususnya di India, Negara dimana ia tinggal, terdapat gejolak sosial yang luar biasa dimana agama-agama tersebar, dan secara teologis mengusung semangat ketuhanan, tetapi pada kenyataannya bertolak belakang dengan esensi kedamaian dan kesejahteraan umat manusia. Dia melihat begitu hebat pergesekan (konflik) kelompok masyarakat yang mengatasnamakan agama dan banyak menelan korban. Selain itu juga realitas adanya struktur sosial yang mengenal kelas di India sangat menghambat bagi hak-hak warga Negara untuk mendapatkan hidup yang layak. Sehingga menurut hemat penulis, lontaran gagasan tentang teologi pembebasan merupakan suatu yang fenomenal dan mendekontruksi pemikiran traditional-teologic dengan melakukan upaya aktif melalui berbagai gerakan-gerakan perspektif Teologi Pembebasan yang menuntut perubahan struktur sosial yang tidak adil dan menindas.
PEMBAHASAN
- BIOGRAFI SINGKAT ASGHAR ALI ENGINEER
Asghar Ali Engineer lahir pada 10 Maret 1940 di India. Beliau adalah pemimpin salah satu kelompok Syiah Ismailiyah Sekte Daudi Bohras yang berpusat di Bombay dan sangat serius dalam menjalankan Gerakan-gerakan pembebasan. Untuk menjadi pemimpin seseorang harus memenuhi 94 kualifikasi yang dapat disederhanakan menjadi 4 kategori yaitu: pendidikan, administrative, moral kepribadian serta keluarga. Pendidikan tertinggi Engineer adalah mendapatkan gelar Doktor dalam bidang Teknik Sipil dari Vikram University, Ujjain India. Selain itu beliau juga mendapat pendidikan keagamaan dari ayahnya. Orang tuanyalah yang mengajari Engineer tentang ilmu-ilmu keislaman seperti teologi, tafsir, hadisdan fiqh. Di samping itu Engineer juga menguasai berbagai bahasa seperti bahasa inggris, Arab, Urdu, Persia, Hindi, dan Marathi. Dengan penguasaannya terhadap berbagai bahasa ini memungkinkan Engineer mempelajari banyak budaya dan menggali sumber ilmu pengetahuan. Beliau adalah pendiri sekaligus ketua AMAN (Asian Muslim Action Network) yang mempromosikan hak asasi manusia dan pemahaman antar-iman di tingkat Asia. Beliau telah melakukan lokakarya bagi kalangan muda muslim dengan mengenalkan pentingnya HAM dan pemahaman lintas agama. Dia juga menjabat sebagai direktur studi Islam yang mempromotori penelitian dan studi HAM, hidup damai tanpa kekerasan. Bukan hanya teori yang disampaikan tapi juga terjun langsung mengkampanyekan nilai-nilai prinsip yang dianut.
Karya-karya Engineer antara lain meliputi 4 bidang:Teologi, Gender, Komunalisme, dan Islam secara umum. Karya-karya tersebut antara lain: Islam and Revolution (1984), Status Women in Islam (1987), Islam and Liberation Theology (1990), Islam and Pluralisme (1999), Reconstruction of Islamic Thought (1999).
- PEMIKIRAN ENGINEER TENTANG TEOLOGI PEMBEBASAN
- Latar Belakang Munculnya Teologi Pembebasan
Islam merupakan ajaran yang demokratis dan fleksibel sesuai perkembangan zaman. Dalam perjalanan masanya Islami mengalami pasang surut dalam mempertahankan eksistensinya. Perkembangan Islam dalam periode modern ditandai dengan munculnya para pembaharu dan intelektual Islam yang memunculkan idealitas melalui berbagai corak pemikiran, seperti Jamaluddin Al Afghani dengan PanIslamisme, Muhammad Abduh dengan Modernisasi Islam, Rasyid Ridha dengan…. Dan muncul satu tokoh yang terkesan baru dalam dunia pemikiran Islam yaitu Asghar Ali Engineer. Beliau menyuarakan gagasannya yang dikenal dengan istilah Teologi Pembebasan.
Munculnya pemikiran Engineer merupakan respon terhadap kondisi social kemasyarakatan di India yang diwarnai dengan gejolak social yang luar biasa dan secara teologis mengusung semangat Ketuhanan tetapi pada kenyataannya bertolak belakang dengan esensi kedamaian dan kesejahteraan umat manusia. Keberadaan agama digunakan sebagai tameng dalam pergeseran konflik social yang banyak menelan korban. Hal itu disebabkan pemahaman Islam yang bersifat tekstual belaka. Penyebab lainnya adalah realitas adanya struktur social yang mengenal kelas di India sangat menghambat hak-hak warga Negara untuk mendapatkan untuk mendapatkan hidup yang layak. Hal ini mendorong Engineer untuk mencetuskan Teologi Pembebasan yang menuntut perubahan struktur social yang tidak adil dan menindas.
Engineer mengkiblatkan pemikirannya pada aliran-aliran teologi pada masa Islam klasik diantaranya Khawarij, Mu’tazilah dan Syiah. Engineer menmandang ketiga aliran ini sebagai pendongkrak utama bagi umat Islam dalam menyuarakan Pembebasan. Pandangan terhadap aliran Khawarij bahwa doktrin keadilan kolektif (collective justice) memberikan inspirasi bagi keadilan social dan persamaan dalam masyarakat Islam.[1] Keadilan social yang dimaksud di sini adalah hak-hak basyariah yang menjadi kebutuhan manusia pada umumnya yang biasa dikenal dengan HAM.
Di samping itu, Engineer menjadikan pola pemikiran kaum Mu’tazilah sebagai referensi bagi pengembangan Teologinya. Aliran yang terkenal sebagai golongan Rasionalis ini menyandarkan sebagian besar pemikirannya pada akal. Hal ini menunjukkan bahwa manusia berkehendak menentukan alternative yang terbaik dalam hidupnya. Salah satu konsep Mu’tazilah yang terkenal adalah doktrin tentang kebebasan manusia dalam berkehendak dan berbuat (free will and free act).
Aliran lain yang menjadi rujukan bagi Engineer adalah Syi’ah. Prinsip utma di sini bahwa KeTauhidan dalam Islam merupakan kebebasan pribadi. Segala bentuk pemaksaan dan penindasan dalam agama merupakan hal yang tidak sesuai dengan prinsip pembebasan dalam Islam. Dengan mengamati sejarah aliran di atas, kemudian dipadukan dengan hasil pengetahuan dari pengkajian aspek Islam, serat dirumuskan sesuai tuntunan AlQuran dan Hadits, Engineer mencetuskan gagasan cemerlangnya tentang Teologi Pembebasan Islam.
- Inti Teologi Pembebasan Islam
Engineer menggunakan istilah Pembebasan dalam gagasannya sebagai ciri dari bahwa gerakan ini mengkonstruksi pola piker umat manusia dari yang semula terjerembab dalam jeratan kebekuan ide dan kering akan wawasan ijtihad menjadi suatu bentuk pemikiran yang demokratis dan fleksibel sesuai pergolakan zaman yang terus menghadirkan hal-hal baru. Teologi Pembebasan ini membuka wacana umat Islam seluas-luasnya untuk berpikir maju, kritis terhadap kebijakan public yang tidak sesuai dengan tujuan dari ajaran agama Islam.
Teologi Pembebasan lebih menekankan pada kesesuaian doktrin terhadap realita social. Salah satu aspek yang menjadi sasaran dalam teologi ini adalah permasalahan Hak Asasi Manusia (HAM).
Konsep pokok yang lain dalam Teologi Islam adalah Tauhid, yang dalam rangka mengembangkan struktur social yang membebaskan manusia dari segala macamperbudakan, harus dilihat dari perspektif social. Tauhid yang dianggap sebagai inti dari Teologi Islam biasanya diartikan dengan keesaan Tuhan. Teologi Pembebasan berbeda dengan dengan tradisional, menafsirkan Tauhid bukan hanya sebagai keesaan Tuhan, namun juga sebagai kesatuan manusia (unity of mankind) yang tidak akan benar-benar terwujud tanpa terciptanya masyarakat tanpa kelas ( classes society). Konsep Tauhid ini sangat dekat dengan semangat Al-Quran untuk menciptakan keadilan dan kebajikan ( al ‘adl wal ahsan).
Bagi Engineer ada beberapa alasan mengapa diperlukan pembenahan terhadap teologi menuju pembebasan, di antaranya adalah:
1.) Dalam kurun waktu yang lama teologi menjadi status Quo, stagnan, dan tidak memberikan kontribusi terhadap kemajuan berfikir kaum muslimin.
2.) Teologi sering dijadikan alat bagi penguasa dalam melanggengkan kekuasaan atas nama agama.
3.) Teologi sering dijalankan hanya pada ranah metafisik dan tidak menyentuh sisi substansi keadilan, kedamaian, kemakmuran bagi kaum muslimin, bahkan justru menjadi jalan bagi halalnya radikalisme dan penindasan.
Sementara langkah-langkah yang dilakukan Engineer dalam upaya menyuarakan Teologi Pembebasan antara lain dengan cara mendirikan Centre for Study Society and Secularism (CSSS) yang dimulai sejak tahun 1993 dengan tujuan sebagai berikut:
1.) menyebarkan semamgat sekularisasi dan perdamaian kehidupan bermasyarakat.
2.) Melakukan study terhadap fenomena yang berkembang dalam masyarakat sekularisasi.
3.) Membentuk ruang dialog antar umat beragama demi keadilan.
Pusat ini melahirkan beberapa program diantaranya Seminar Peringatan Sekularisasi di India setiap 5 tahun, workshop, camping bagi kaum pemuda muslim, penelitian, dsb.
Teologi pembebasan lebih menekankan pada praksis daripadaa teoritisasi maetafisik yang mencakup hal-hal yang abstrak dan konsep-konsep yang ambigu. Praksis yang dimaksud adalah sifat liberatif dan menyangkut interaksi dialektis antara “ apa yang ada” (is) dan apa yang seharusnya (ought).[2]
- Tujuan Aliran Teologi Pembebasan Islam
Tujuan utama aliran teologi ini adalah bagaimana agar agama itu dapat lebih bermakna bagi kelompok marginal dan lemah. Engineer menegaskan bahwa agama dapat menjadi candu atau kekuatan revolusioner. Itu semua tergantung bagaimana agama tersebut ditafsirkan dan digunakan. Agama menjadi candu apabila ia beraliansi dengan kekuatan status Quo. Agama hanya akan menjadi “ alat keluh kesah manusia“. Dengan kata lain agama tidak lagi memberikan makna bagi kaum tertindas karena ia lebih berperan sebagai pelanggeng kondisi yang tidak memanusiakan manusia. Sebaliknya agama juga dapat menjadi instrument perubahan manakala ia diformulasi dalam bentuk teologi pembebasan. Dalam formulasi seperti inilah agama dapat menjadi senjata ideologis yang ampuh. [3]
- ISLAM DAN TEOLOGI PEMBEBASAN
Islam adalah sebuah agama dalam pengertian teknis dan social revolutif yang menjadi tatangan yang mengancam struktur yang menindas pada saat ini dan di dalam maupun di luar Arab. Tujuan dasarnya adalah persaudaraan yang universal (universal brotherhood), kesetaraan (equality), dan keadilan social (social justice). Asumsinya adalah sebagai berikut:
1.) Islam menekankan kesatuan manusia ( unity of mankind) yang ditegaskan dalam ayat AlQuran , “ Hai manusia! Kami ciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan. Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling mengenal. Sunnguh Allah Maha Mengetahui.[4] Ayat ini secara jelas membantah semua konsep superioritas rasial, kesukuan, kebangsaan, atau keluarga, dengan satu penegasan dan seruan akan pentingnya kesalehan. Kesalehan yang disebutkan dalam AlQuran bukan hanya kesalehan ritual, namun juga kesalehan social.
2.) Islam sangat menekankan pada keadilan di semua aspek kehidupan. Dan keadilan ini tidak akan tercipta tanpa membebaskan golongan masyarakat lemah dan marjinal dari penderitaan, serta memberi kesempatan kepada mereka untuk menjadi pemimpin. Al-Quran tidak ragu-ragu untuk memprcayakan